“Awalnya kami hanya mencoba keberuntungan dengan berjualan sate, karena kami takut gagal lagi seperti usaha-usaha sebelum ini. Namun ternyata masyarakat di sini menerima keberadaan kami menjajakan sate. Mereka ingin sekali merasakan masakan khas Madura ini” Ujar Ibu Norwati, penjual sate yang awalnya berkeliling menggunakan gerobak bersama suami. Setiap hari usahanya semakin laris. Hingga suatu saat terpikir olehnya untuk membuka kios sate secara permanen. Akhirnya Norwati mencoba membuka warung sate di sekitar terminal dengan menggunakan tenda dan ternyata pelanggan yang mampir ke warungnya. Seiring banyaknya pelanggan yang mampir ke tenda Ibu Norwati menjadi permasalahan tersendiri bagi ibu Norwati. Adalah Tempat yang kurang memadai untuk menampung pembeli yang sangat banyak. Selain itu kendaraan operasional sangat dibutuhkan untuk pembelian bahan mentah yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi usahanya. September 2014, Ibu Norwati dan suami mengajukan pinjaman ke Bank Sahabat Sampoerna dan akhirnya Ibu Norwati tidak lagi berjualan menggunakan tenda melainkan sudah membuka usaha secara permanen di terminal dan ternyata banyak pelanggan yang mampir ke warungnya. Usahanya tambah maju dan saat ini Ibu Norwati dibantu oleh anaknya sebagai bentuk regenerasi usahanya.