eBanking
Kontak
Jaringan Kantor

Testimoni Nasabah

Testimoni Nasabah2018-09-24T00:40:59+07:00

Terinspirasi Dari Toilet Umum Yang Kotor

Bapak Yuspriadi di Prabumulih, Sumatera Selatan

Cerita di atas merupakan pengalaman yang dialami oleh Bapak Yuspriadi, pria paruh baya berusia 55 tahun yang kala itu sedang berada di salah satu rumah sakit terkenal di bilangan Jakarta Pusat. Rasa sembelit bukan langsung hilang otomatis melainkan membuat Pak Yus, panggilan dari Pak Yuspriadi, menjadi stres melihat kondisi seperti ini. Dari pengalaman inilah Pak Yus berkeinginan membangun toilet umum yang bersih untuk kepentingan orang banyak.

“Kalau tidak salah, pada saat itu tahun 2010 ketika saya berobat jantung ke salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Kebetulan saat itu saya ingin buang air kecil yang tidak bisa ditahan lagi dan di dekat saya berobat ada toilet umum. Namun, apa yang saya lihat benar-benar menyedihkan. Toilet itu sangat kotor dan menjijikkan. Ada toilet yang bersih namun jaraknya lumayan jauh dari tempat saya berobat. Dari sinilah kemudian saya berniat untuk membuat toilet umum di Prabumulih yang bersih dan terawat,” ungkap Pak Yus memulai pembicaraan dengan tim redaksi.

Pada tahun 2011 Pak Yus merealisasikan keinginannya untuk membuka usaha toilet umum di salah satu pasar di Kota Prabumulih. Proses perizinan berjalan cukup lama karena terkait dengan pembuangan limbahnya harus benar-benar aman dan tidak mengganggu lingkungan. Tidak tanggung-tanggung, Pak Yus langsung membuat sebanyak 18 toilet, yang bisa digunakan untuk wanita sebanyak 9 toilet dan sisanya untuk laki-laki.Menurut pengakuannya, toilet Pak Yus sangat ramai. Setiap harinya rata-rata hampir 500 orang yang menggunakan toilet Pak Yus. Sebuah berkah yang luar biasa dari kamar-kamar toilet yang dibangun Pak Yus bersama Ibu Lia, istrinya.

Tarif untuk mandi sebesar Rp5.000 dan untuk buang air kecil dan besar dengan tarif Rp3.000. Bisa dibayangkan penghasilan Pak Yus apabila tiap harinya rata-rata 400 – 500 orang yang menggunakan toilet Pak Yus. Perawatan toilet tidak mengeluarkan biaya yang banyak. Hanya dibutuhkan 2 orang tenaga kerja dan penyedotan pembuangan limbah yang hanya dilakukan setiap 6 bulan sekali, membuat Pak Yus lebih mantap menjalankan usaha ini. Ditanya harapan kedepannya, Pak Yus dengan suara mantap berkeinginan untuk membuka usaha sejenis di lain tempat yang tentunya cukup ramai. “Alhamdulillah ini berkah dari Yang Maha Kuasa, berawal dengan 18 pintu toilet umum, kini kami punya ladang usaha yang lainnya,” tutur Pak Yus mengakhiri pembicaraan.

Meraup Rejeki Dari Nasi Goreng Kaki Lima Bapak Suhendi di Palembang, Sumatera Selatan

Bapak Suhendi Pedagang Nasi Goreng

Sebut saja Bapak Suhendi, pria asli Palembang yang mempuanyai 3 orang anak ini sukses berjualan nasi goreng yang telah digeluti selama 20 tahun. Dengan prinsip hanya menjaga kualitas, pelanggan setia Bapak Suhendi semakin hari semakin bertambah.  “Saat itu saya bekerja dengan teman yang sudah membuka usaha nasi goreng. Saya melihat membuat nasi goreng sangat mudah dan bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan. Akhirnya saya coba belajar dan memahami cara membuat nasi goreng yang disukai pelanggan, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri pada tahun 1998,” ungkap Bapak Suhendi saat dihubungi oleh tim redaksi.

Jatuh bangun selama menjalani usaha ini kerap dirasakan oleh Bapak Suhendi. Berjamurnya usaha-usaha sejenis sedikit mempengaruhi perputaran uang milik Pak Suhendi, namun hal ini bukan merupakan kendala baginya.

Sejak 2016 Pak Suhendi sudah tidak terjun langsung memasak nasi goreng. Pak Suhendi hanya memantau para pekerjanya agar mereka melakukan sesuai dengan apa yang diajarkannya. Jumlah tenaga kerja yang saat ini membatu warung Pak Suhendi berjumlah 3 orang. Kesemuanya itu sudah sejak kecil tinggal bersama Pak Suhendi dan sudah dianggap keluarga sendiri. Menurut Pak Suhendi, saat ini mencari tenaga kerja yang dapat dipercaya agak susah.

“Alhamdulillah penghasilan dari usaha warung yang selama ini saya jalani dapat membuka usaha baru kami yaitu jual beli motor bekas ke daerah Sungai Lilin. Kebetulan minat beli motor di daerah itu masih sangat tinggi dan adik saya juga mempunya showroom motor di sana. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk meraup keuntungan,” lanjut Pak Suhendi bersemangat. Hingga saat ini Bapak Suhendi sudah bisa merenovasi rumah dan membuka usaha jual beli motor.

Pasar Dibongkar, Rejekipun Mengalir

Bapak Ismail di Manokwari, Papua Barat

Bapak Ismail mengaku memang sudah beberapa kali membuka usaha sebelumnya, seperti menjual pakaian dan warung kuliner, yang kesemuanya itu tidak bertahan lama. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka warung sembako. “Sebelum ini saya pernah membuka toko pakaian dan warung makanan, tapi tidak bertahan lama. Akhirnya tahun 2011 saya mencoba membuka warung sembako di salah satu pasar di sini,” ungkap Pak Ismail.

Ketika itu, kabar buruk menimpa Pak Ismail saat usahanya baru berjalan 2 tahun. Pasar tempatnya berdagang akan dibongkar untuk dijadikan pasar yang lebih bagus. Mendengar hal ini Pak Ismail langsung mengambil tindakan dengan menyewa ruko tidak jauh dari pasar tersebut. “Betapa terkejutnya saya mendengar kalau pasar mau dibongkar dan akan dibangun pasar yang baru. Sayangnya kios pengganti sementara yang disediakan ukurannya sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran kios semula. Tanpa pikir panjang saya beranikan diri untuk menyewa ruko tidak jauh dari pasar. Apabila pasar itu jadi dibongkar, saya sudah mempersiapkan warung terlebih dahulu,” ungkap Pak Ismail lebih lanjut.

Singkat cerita, Pak Ismail justru merasakan kemajuan yang sangat berarti dengan membuka warung sembako di ruko barunya. Meskipun di ruko tersebut sudah ada warung sembako lain, namun pembeli lebih senang berbelanja kebutuhan pokok di warung Pak Ismail. Selain barang-barangnya lengkap, soal harga juga lebih murah dibandingkan dengan warung lainnya. Dengan prinsip untung sedikit asalkan permintaan pelanggan terpenuhi menjadi alasan tersendiri warungnya tumbuh pesat. Kerja sama dengan distributor-distributor juga dilakukan oleh Pak Ismail untuk memenuhi warungnya dengan barang dalam jumlah yang besar. Hal inilah yang membuat harga-harga di warung Pak Ismail jauh lebih murah dibandingkan dengan yang dijual warung lainnya. Itulah yang dilakukan oleh Bapak Ismail, yang kini sukses menjadi seorang pedagang sembako. Hingga saat ini Pak Ismail telah memiliki ruko sendiri, bahkan sudah dapat membangun rumah yang lebih baik lagi. “Perubahan pasti ada, tinggal bagaimana kita mengelola keuangan. Kalau dikelola dengan baik, pasti hasilnya juga baik. Begitupun sebaliknya,” pungkas Pak Ismail menutup pembicaraan.

Kesuksesan Bukan Melulu Milik Lelaki

Ibu Norwati
Penjual Sate

“Awalnya kami hanya mencoba keberuntungan dengan berjualan sate, karena kami takut gagal lagi seperti usaha-usaha sebelum ini. Namun ternyata masyarakat di sini menerima keberadaan kami menjajakan sate. Mereka ingin sekali merasakan masakan khas Madura ini” Ujar Ibu Norwati, penjual sate yang awalnya berkeliling menggunakan gerobak bersama suami. Setiap hari usahanya semakin laris.

Hingga suatu saat terpikir olehnya untuk membuka kios sate secara permanen. Akhirnya Norwati mencoba membuka warung sate di sekitar terminal dengan menggunakan tenda dan ternyata pelanggan yang mampir ke warungnya. Seiring banyaknya pelanggan yang mampir ke tenda Ibu Norwati menjadi permasalahan tersendiri bagi ibu Norwati. Adalah Tempat yang kurang memadai untuk menampung pembeli yang sangat banyak. Selain itu kendaraan operasional sangat dibutuhkan untuk pembelian bahan mentah yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi usahanya.

September  2014, Ibu Norwati dan suami mengajukan pinjaman ke Bank Sahabat Sampoerna  dan akhirnya Ibu Norwati tidak lagi berjualan menggunakan tenda melainkan sudah membuka usaha secara permanen di terminal  dan ternyata banyak pelanggan yang mampir ke warungnya. Usahanya tambah maju dan saat ini Ibu Norwati dibantu oleh anaknya sebagai bentuk regenerasi usahanya.

Gula kelapa yang manis hasilnya

Bapak Aan
Petani

Batang kelapa ternyata bisa menghasilkan bahan untuk gula merah, yakni dengan mengambil nira dari umbut kelapa yang sudah ditumbang. Hal ini sedikit banyak bisa memecahkan permasalahan ekonomi bagi petani kelapa yang menghadapi masa tanam ulang (replanting).

“Banyak orang yang bingung takut kehilangan penghasilan saat kebun kelapanya di replanting, kami berharap ini bisa menjadi solusi,” terang Bapak Aan memulai ceritanya.

Secara ekonomis, menurut Pak Aan potensi ini sangat menjanjikan. Bagaimana tidak, satu kaveling atau 2 hektar kebun kelapa bisa menghasilkan keuntungan hingga ratusan juta rupiah.

Tepatnya tahun 2017 lalu, Pak Aan memperoleh tambahan modal kerja dari Bank Sampoerna untuk memperbesar usahanya. Hal ini tidak disia-siakan oleh Pak Aan untuk memproduksi gula kelapanya lebih banyak lagi. Alhasil, penghasilannya pun kian meroket secepat kilat. Dari bilangan belasan juta rupiah per bulan kini Pak Aan mampu mengantongi penghasilan hingga satu setengah kalinya.

HUBUNGI KAMI