eBanking
Kontak
Jaringan Kantor

Testimoni Nasabah

Testimoni Nasabah2018-09-24T00:40:59+07:00

Meraih Rejeki dari Beningnya Kaca

Bapak Aris Bongkasa di Pinrang, Sulawesi Selatan.

Sebut saja di Kabupaten Pinrang, kota kecil yang terletak kurang lebih 185 km dari kota Makassar ini, hiduplah Sepasang suami istri yang berjuang mengais keberuntungan lewat beningnya kaca. Itulah Bapak Aris Bongkasa dan istrinya Ibu Nurlena, yang sudah 10 tahun lamanya menggeluti bisnis jual beli kaca ini. Berawal dari meneruskan usaha sepupu Ibu Nurlena yang mengalami kerugian hingga ratusan juta, akibat pengelolaan keuangan yang kurang terencana. Ibu Nurlena beserta sang suami melanjutkan toko jual beli kaca tersebut, dengan keyakinan akan lebih maju lagi.

Pak Aris dan Bu Nurlena mendapatkan pinjaman dana dari Bank Sampoerna untuk mengembangkan usahanya. Berkat pinjaman dari Bank Sampoerna, kini Pak Aris sudah tidak khawatir akan persediaan kacanya. Gudang yang ada saat ini jauh lebih besar dari yang ada sebelumnya. Bayangkan saja saja jika setiap melakukan pemesanan kaca ke distributor sebanyak 1 kontainer, yang berisi 18 peti dimana per petinya berisi 300 lembar kaca, maka sebanyak lebih dari 5.000 lembar kaca akan diletakkan di gudangnya. Untung saja dana yang diperoleh dari KSP Sahabat Mitra Sejati juga dapat membeli satu unit forklift yang digunakan untuk menurunkan peti-peti tersebut dari kontainer ke gudangnya. “Mudah-mudahan Bank Sampoerna masih bisa membantu kami, para usahawan kecil ini” ucap Bu Nurlena sambil menutup pembicaraan.

Suami Istri Putar Haluan Dagangan Gara-Gara Si Jago Merah

Bapak Haji Sultan Manaba dan Ibu Mulyani di Kolaka, Sulawesi Selatan.

Pepatah mengatakan bahwa pasangan terbaik itu adalah sepasang sepatu, bentuknya tak persis sama namun serasi, saat berjalan tak pernah kompak tapi tujuannya sama, tak pernah ganti posisi, namun saling melengkapi, bila yang satu hilang yang lain tak memiliki arti. Filosofi itu menjadi latar belakang Bapak Haji Sultan Manaba berputar haluan, dari berjualan pakaian ke usaha penjualan sepatu dan sandal. Tepatnya tahun 1986. Pak Haji, panggilan akrab Bapak Sultan Manaba ini menceritakan awal mula dirinya bersama Ibu Mulyani sang istri membangun usaha jual beli sepatu di salah satu pasar di Kolaka Makassar. “Dulu kami kena musibah terbakarnya kios pakaian kami di pasar. Atas kejadian ini saya berpikir untuk mencoba membuka usaha baru dan kebetulan saya punya banyak teman yang sudah membuka usaha grosir sepatu. Disarankan agar saya membuka toko sepatu yang nanti barang-barangnya dari teman saya. Ya sudah, akhirnya berkat dukungan dan saran dari temanteman, saya mencoba berjualan sepatu,” papar Pak Haji bercerita.

Pak Haji Sultan dan Ibu Mulyani kini tinggal menikmati hasilnya di masa tuanya. Pasangan suami istri yang sudah memasuki kepala 5 ini telah mempunyai 11 orang cucu dari 4 anaknya yang sudah berkeluarga. Satu orang anaknya sudah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tinggallah 4 orang anaknya yang siap untuk meneruskan usaha orang tuanya. “Inshaa Allah, anak-anak siap untuk meneruskan usaha ini. Dan semoga Bank Sampoerna masih mau membantu kami para pengusaha kecil di kota kecil ini”, harap pak Haji mengakhiri pembicaraan.

 

Pengusaha pakaian jadi dan konveksi jahitan

Ibu Sukma dan Bapak Andi Agus
dari Bantaeng Makassar

Pakaian adalah sebuah kebutuhan pokok manusia. Dari hari ke hari, permintaan pasar akan ketersediaan pakaian semakin tinggi dan dinamis seiring dengan banyaknya jenis pakaian yang bermunculan. Kenyataan ini tentunya memicu peluang yang besar pada bisnis konveksi dan membuatnya menjadi salah satu bisnis yang diminati pengusaha.

Peluang itulah yang dimanfaatkan oleh Ibu Sukma asal Bantaeng Makassar. Ibu Sukma sudah mulai mencari pendapatan sendiri sejak di bangku SLA. Karena belum memiliki kemampuan membuat produk sendiri, Ibu Sukma memanfaatkan belajar dari sang kakak yang sudah dulu membuka toko pakaian dan konveksi. Sejak saat itu ia mulai mengerti cara membuat pola pakaian, menjahit sampai dengan baju itu jadi.

Berjalan 2 tahun dengan toko pakaiannya, Ibu Sukma mencoba memperbesar ladang usahanya dengan membuka konveksi pakaian. Tahun silih berganti, toko pakaian dan usaha konveksi Ibu Sukma semakin maju. Dengan omset ratusan potong baju ini, Ibu Sukma dapat mempekerjakan sebanyak 6 orang karyawannya dan 3 mesin jahit untuk keperluan konveksi. Tidak puas dengan 6 kios yang sudah ada, Ibu Sukma berkeinginan untuk menambah 1 kios lagi pada saat itu. Berniatlah Ibu Sukma untuk mengajukan pinjaman modal kerja ke lembaga keuangan.

“Saat itu saya memang benar-benar membutuhkan tambahan modal kerja. Selain itu juga berkeinginan untuk membeli 1 rumah untuk investasi buat anak saya. Penghasilan yang saya dapat saat ini saya simpan untuk tabungan hari tua,” ucap ibu Sukma.

Tidak Puas Hanya Bisnis Ayam dan Ikan, Bisnis Lainnya Tetap Prospek

Bapak Ahmad Rifani
dari Kuala Kapuas.

Cerita keberhasilan Pak Ahmad tidaklah semulus dan semudah yang dibayangkan orang. Sebelum meraih omset belasan juta dalam sehari, Pak Ahmad mengalami jatuh bangun dalam merintis bisnisnya. Kepindahan rumahnya dari Palingkau ke Kuala Kapuas, untuk mendekati dengan pasar, merupakan salah satu keputusan terberat, yang diambil oleh Pak Ahmad. Pernah pula ada komplain dari tetangga, karena merasa terganggu dengan bau ayam.

Kisah ini berawal dari pengalamannya memelihara puluhan hingga ratusan ekor ayam. Ayam yang dipeliharanya hingga ratusan itu terkena penyakit yang mengakibatkan kematian, hingga tak dapat dijual. Atas kejadian ini, Pak Ahmad berubah haluan. Kini Pak Ahmad tidak memelihara ayam potong dari kecil, melainkan sudah membeli ayam potong yang sudah besar dan siap untuk dijual. Pak Ahmad membangun usaha penjualan ayam potong dengan hanya beberapa ekor saja. Mulai dari 10 ekor per hari hingga membengkak mencapai 1.000 ekor per hari saat ini.

Kesuksesan menjual ayam potong yang digeluti Pak Ahmad hingga saat ini, membuat Pak Ahmad mencari usaha baru untuk menambah penghasilannya. Saat ini omset per hari yang mencapai 2.000 – 3.000 ekor ayam menjadikan Pak Ahmad dapat mengklaim sebagai pedagang ayam potong terbesar sekota Kuala Kapuas.

Pak Ahmad mencoba keberuntungan lain, melalui ikan. Dimanfaatkan lahan tanah yang letaknya berjarak 9 km dari rumahnya untuk dibuat tambak ikan. Alhasil, bibit ikan patin sebanyak 70 – 80 ribu sukses dipanen setiap 6 bulan sekali.

Tidak puas dengan kedua usaha yang dilakoni Pak Ahmad, timbullah keinginan untuk berinvestasi asset dengan membeli tanah dan membangun ruko terwujud sudah.

Lengkaplah sepak terjang Pak Ahmad menggeluti beberapa bidang usaha. Dengan toko yang barunya ini, Pak Ahmad mencoba membangun home industry kue dan roti, yang saat ini dikelola oleh anaknya yang pertama.

Terinspirasi Dari Toilet Umum Yang Kotor

Bapak Yuspriadi di Prabumulih, Sumatera Selatan

Cerita di atas merupakan pengalaman yang dialami oleh Bapak Yuspriadi, pria paruh baya berusia 55 tahun yang kala itu sedang berada di salah satu rumah sakit terkenal di bilangan Jakarta Pusat. Rasa sembelit bukan langsung hilang otomatis melainkan membuat Pak Yus, panggilan dari Pak Yuspriadi, menjadi stres melihat kondisi seperti ini. Dari pengalaman inilah Pak Yus berkeinginan membangun toilet umum yang bersih untuk kepentingan orang banyak.

“Kalau tidak salah, pada saat itu tahun 2010 ketika saya berobat jantung ke salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Kebetulan saat itu saya ingin buang air kecil yang tidak bisa ditahan lagi dan di dekat saya berobat ada toilet umum. Namun, apa yang saya lihat benar-benar menyedihkan. Toilet itu sangat kotor dan menjijikkan. Ada toilet yang bersih namun jaraknya lumayan jauh dari tempat saya berobat. Dari sinilah kemudian saya berniat untuk membuat toilet umum di Prabumulih yang bersih dan terawat,” ungkap Pak Yus memulai pembicaraan dengan tim redaksi.

Pada tahun 2011 Pak Yus merealisasikan keinginannya untuk membuka usaha toilet umum di salah satu pasar di Kota Prabumulih. Proses perizinan berjalan cukup lama karena terkait dengan pembuangan limbahnya harus benar-benar aman dan tidak mengganggu lingkungan. Tidak tanggung-tanggung, Pak Yus langsung membuat sebanyak 18 toilet, yang bisa digunakan untuk wanita sebanyak 9 toilet dan sisanya untuk laki-laki.Menurut pengakuannya, toilet Pak Yus sangat ramai. Setiap harinya rata-rata hampir 500 orang yang menggunakan toilet Pak Yus. Sebuah berkah yang luar biasa dari kamar-kamar toilet yang dibangun Pak Yus bersama Ibu Lia, istrinya.

Tarif untuk mandi sebesar Rp5.000 dan untuk buang air kecil dan besar dengan tarif Rp3.000. Bisa dibayangkan penghasilan Pak Yus apabila tiap harinya rata-rata 400 – 500 orang yang menggunakan toilet Pak Yus. Perawatan toilet tidak mengeluarkan biaya yang banyak. Hanya dibutuhkan 2 orang tenaga kerja dan penyedotan pembuangan limbah yang hanya dilakukan setiap 6 bulan sekali, membuat Pak Yus lebih mantap menjalankan usaha ini. Ditanya harapan kedepannya, Pak Yus dengan suara mantap berkeinginan untuk membuka usaha sejenis di lain tempat yang tentunya cukup ramai. “Alhamdulillah ini berkah dari Yang Maha Kuasa, berawal dengan 18 pintu toilet umum, kini kami punya ladang usaha yang lainnya,” tutur Pak Yus mengakhiri pembicaraan.

HUBUNGI KAMI