eBanking
Kontak
Jaringan Kantor

Testimoni Nasabah

Testimoni Nasabah2018-09-24T00:40:59+07:00

Demi Hobi, Apapun Keadaannya Tetap Dipertahankan

Kisah sukses Pak Agus berawal dari mendiang Bapak mertuanya yang lebih dahulu membuka bengkel knalpot. Setelah belajar selama 1-2 tahun dari bengkel knalpot milik mendiang bapak mertuanya, Pak Agus memberanikan untuk membuka sendiri bengkel knalpot. Tepatnya pada tahun 2004 Pak Agus mengelola sendiri bengkel knalpot miliknya.

Sistem jemput bola juga pernah dilakukan Pak Agus untuk menambah omzet penjualan knalpotnya. Artinya Pak Agus membuka bengkel knalpot secara kaki lima di daerah lain. Namun apa yang didapat dari sistem jemput bola ini tidak berlangsung lama. Kepercayaan yang diberikan Pak Agus kepada karyawannya untuk menjalankan sistem ini tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Kesuksesan usahanya Pak Agus yang sudah dikaruniai 3 orang anak ini tidak terlepas berkat dukungan dari Bank Sampoerna melalui KSP Sahabat Mitra Sejati cabang Jombang. Sejak menjadi anggota pada tahun 2014 Pak Agus mendapat dukungan dari Bank Sampoerna. Diterimanya pinjaman modal kerja pertama kali diperuntukkan membangun rumah dan membesarkan bengkel knalpotnya, karena pada saat itu Pak Agus sedang gencar-gencarnya melakukan sistem jemput bola yang membutuhkan modal untuk pembelian knalpot.

“Usaha saya tentunya tidak bisa berkembang kalau tidak ada dukungan dari pelanggan atau pihak luar. Tidak salah pilih kalau saya menjadi anggota KSP Sahabat Mitra Sejati sejak tahun 2014 yang didukung penuh oleh Bank Sampoerna. Banyak yang telah diberikan oleh Bank Sampoerna untuk usaha saya”.

Wanita Tangguh Pedagang Telur

Ibu Sumiati di Blitar, Jawa Timur

Ibu Sumiati keluar dari zona nyaman, untuk menentukan hidupnya sendiri. Bergabung dan mengikuti jejak orang tuanya yang berwirausaha dan berjualan dari pasar ke pasar, membuat Ibu Sumiati ingin secepatnya mencari usaha baru yang mandiri.

Akhirnya pada tahun 1993, ibu Sum memberanikan untuk terjun ke usaha peternak ayam, opsi yang dipilihnya adalah untuk ayam petelur, dimana telurnya akan di jual ke konsumen.

Tidak disangka-sangka, dari semula hanya 500 ekor, lambat laun bertambah 1.000 dan 2.000 ekor, hanya dalam hitungan bulan menghasilkan telur yang sangat banyak sekali. “Tidak disangka, proses penambahan modal kerja langsung disetujui oleh Bank Sahabat Sampoerna. Langsung saya belikan polet atau ayam siap bertelur. Alhamdulillah telur-telur saya bisa mengikuti harga telur yang sedang melambung saat itu,” lanjut Ibu Sum bersemangat.

“Terima kasih untuk Bank Sahabat Sampoerna, yang sudah membantu kami untuk maju, sudah membuat kami nyaman dan selalu dipermudah setiap ada kesulitan,” ucap Ibu Sum mengakhiri pembicaraan. ***

Berangkat ke Baitullah Berkat Kacamata

Bapak Nasirudin di Jombang, Jawa Timur

Sebagai seorang anak petani, awalnya Bapak Nasirudin tidak berpikir untuk menjadi seorang optometris. Niatan itu muncul, saat dia bekerja disebuah jaringan waralaba optik terkemuka selama 10 tahun, sejak tahun 2004. Selama bekerja di sana, Bapak Nasirudin berkesempatan untuk mempelajari seluk beluk dunia optometris secara otodidak. Semakin dia belajar, semakin dia merasa mampu untuk memiliki optik sendiri.

Tahun 2016 permintaan kacamata di Optik Gelora semakin meningkat, hal ini membuat Bapak Nasirudin kewalahan menerima pesanan. Dia pun berpikir untuk membuka cabang. Saat itu dia juga sudah memiliki gelar, sehingga lebih berani untuk membuka cabang.

Bapak Nasirudin kemudian mendapatkan pembiayaan dari Bank Sahabat Sampoerna. Semua uangnya dia gunakan untuk membuka cabang Optik Gelora. Saat ini usaha optik Bapak Nasirudin semakin berkembang. Dia sudah memilki 11 orang karyawan di kedua cabang toko optiknya. Jumlah pasiennya pun mencapai 350-400 orang per bulan.

Tinggalkan Perusahaan Demi Memajukan Usaha Roti Olahan

Bapak Bahar Badu di Enrekang, Sulawesi Selatan.

Pak Bahar, yang sebelumnya adalah pegawai pemasaran di salah satu perusahaan farmasi selama 5 tahun ini, nekat banting setir menjadi penjual roti. Usaha ini berawal dari banyaknya keluhan dari warung  sekitar rumahnya, yang membutuhkan rasa roti yang berbeda.

Berbekal dari sinilah Pak Bahar banting setir, untuk mencoba membuat usaha roti dengan rasa yang berbeda dengan roti lainnya. Tepatnya pada bulan November 2011, meskipun belum menguasai cara membuat roti, tidak melunturkan tekad Pak Bahar untuk mandiri, diajaknya teman yang bekerja di toko roti, untuk membangun usaha roti yang dirintis oleh Pak Bahar. Dengan sistem berbagi inilah ajakan Pak Bahar, diterima oleh temannya.

“Dulu awal buka usaha, saya masih menggunakan mesin manual untuk membuat roti. Berjalan beberapa tahun, sering sekali saya mendapat pesanan melebihi dari biasanya. Akhirnya saya harus kerja keras, untuk memenuhi permintaan pelanggan. Kalau cara ini saya lakukan terus, dikawatirkan pelanggan akan beralih ke pabrik lain, karena pesanannya selalu tertunda,” Pak Bahar melanjutkan.

Kejadian inilah yang memutuskan untuk membeli alat yang lebih modern, karena terbentur dengan harga yang tidak murah, serta modal untuk membeli alat ini tidak memungkinkan. Pak Bahar memutuskan untuk mencari pinjaman modal kerja dari lembaga keuangan. Pada tahun 2017 Pak Bahar menerima pinjaman modal kerja dari Bank Sahabat Sampoerna, keinginan untuk memiliki alat yang lebih canggih, akhirnya terwujud.

 

Meraih Rejeki Berkat Usaha Pemasok Pisang

Bapak Busri di Samarinda, Kalimantan Timur.

Awalnya Bapak Busri hanya sebagai penjual eceran dan hanya satu jenis pisang yang dijual, kini usaha pak Busri sudah berkembang sangat pesat. Bahkan saat ini usaha Pak Busri sudah di bilang sebagai agen pisang di kota kelahirannya, Samarinda. Keberhasilan suatu usaha tidak lain, karena dukungan dari hubungan baik dengan semua orang. Tanpa itu usaha apapun yang dijalankan akan sulit untuk berkembang. Hubungan baik dengan masyarakat bahkan dengan temanteman lamanya, menjadi faktor utama suksesnya menjalankan usaha ini. Sebut saja beberapa rumah sakit besar di Kota Samarinda telah dijajaki oleh Pak Busri. Alhasil, pisang Pak Busri menjadi langganan tetap untuk beberapa rumah sakit untuk konsumsi para pasiennya.

Suka duka selama menjalankan usaha ini kerap dijumpai oleh Pak Busri. Mulai dari pernah dibohongi oleh pembeli, hingga menerima pisang busuk dari pesanannya. Musim penghujanpun seringkali menjadi hambatan bagi Pak Busri, mengingat jarak petani pisang dangan lokasi Pak Busri harus melewati hutan. Jalanan menuju tempat petani belum beraspal sehingga tidak bisa dilalui pada saat hujan. Keinginannya untuk memiliki truk akhirnya terpenuhi juga. Pada tahun 2014, Pak Busri mendapatakan pinjaman dari Bank Sampoerna. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Pak Busri, guna memperlancar usahanya. Truk lebih terasa berguna untuk setiap kali pemesanan pisang ke daerah Kaliurang pada saat hujan. “Mudah-mudahan Bank Sampoerna masih bersedia membantu kami, khususnya para pengusaha kecil seperti saya ini,” ungkap Pak Busri mengakhiri pembicaraan.

HUBUNGI KAMI