PASANG SURUT USAHA

Update per Agustus 2017

20841207_1001980746605720_4494828043534011895_n

 

Bisnis dibidang penjualan pakan hewan terkadang dipandang sebagai bisnis yang kurang berpotensi bagi sebagian orang. berbeda dengan Muhari Yanuar yang dengan ulet merintis bisnisnya sejak tahun 2001. Terlebih lagi tempat tinggal Muhari berada di Pontianak, menjadi lokasi yang potensial untuk membuka usaha pakan ikan.

 

Disaat menjalankan bisnisnya, banyak pasang surut yang harus dilalui oleh Bapak 3 anak ini. Salah satunya kesulitan modal untuk menambah variasi pakan ikan yang kian beragam untuk memenuhi permintaan pelanggan.

 

Hingga pada akhirnya di tahun 2014, Bank Sampoerna memberikan fasilitas pinjaman modal kepada Muhari untuk menambah jenis pakan hewan. Semenjak mendapatkan bantuan dari Bank Sampoerna, Muhari tidak hanya menjual pakan ikan namun juga pakan untuk pertenakan ayam dan memperoleh dana untuk pembelian ruko baru. Saat ini usaha Muhari memiliki omzet ratusan juta rupiah dan kian berkembang hingga memiliki 8 ruko untuk menunjang usahanya.

 


YATINI, “Tekad Pantang Menyerah” seorang petani dan peternak kambing

bu-Yatini

 

Berbekal semangat dan ketangguhan ibu Yatini, walau telah ditinggal berpulang oleh suaminya yang tuna netra tidak ada kata pantang menyerah bagi ibu yang tabah ini. Pekerjaannya semakin mantap setelah mendapatkan banyak pengarahan dari rekan-rekan Bank Sampoerna tentang hidup yang sejahtera dan terus maju, yang pada akhirnya diberikan pendanaan oleh Bank Sampoerna guna keperluan membeli pupuk untuk sawahnya. Dengan upaya terus menerus dan bimbingan dari rekan-rekan Bank Sampoerna, akhirnya ibu yang memiliki keinginan kuat ini, mampu membeli kambing untuk menyambung hidupnya. Sawah yang digarapnya semakin subur dan menghasilkan beras yang unggul, disertai dengan berkembang biak dari kambing yang dimilikinya.

 


WERI ISWADI “KRUPUK PASUNDAN”, Depok

 

Pak-Weri

 

“Kata Pasundan berawal dari kata Padang dan Sunda. Dimana saya lahir di Padang dan nekat merantau ke Jawa (Sunda) dan membangun usaha disini. Dalam membangun produksi krupuk ini saya melibatkan pedagang sebagai kunci utamanya. Saya sediakan fasilitas nya dari peralatan penggorengan, rombong dan kaleng krupuk hingga bahan mentah krupuknya. Pedagang tinggal kas bon krupuk mentah, menggoreng sendiri sesuai kebutuhan hari itu. Hal itu saya lakukan untuk dapat meningkatkan rasa kepemilikan dari bisnis ini”.

 

Berbagai macam tantangan selama membangun usaha produksi krupuk ini telah dilewati, dari keluar masuknya pedagang, human error dan weather error. segala inovasi dan solusi dari segala tantangan telah saya lakukan hingga akhirnya bertemu dengan Bank Sampoerna.

 

Alhamdulillah berawal dari usaha kecil membuat krupuk ini, usaha saya semakin berkembang berkat bantuan pinjaman dan pendampingan dari Bank Sampoerna. Saya dapat membeli alat cetak dan pengering (oven) krupuk, sehingga dapat meningkatkan kapasitas produksi krupuk saya dan tidak kawatir dengan cuaca atau musim hujan. Dari sisi persediaan bahan baku, saya menjadi lebih kuat dan dapat mulai berinovasi ke krupuk kulit serta dapat menambah rombong dan kaleng krupuk untuk pedagang.

 

Disamping itu Bank Sampoerna pelayanannya cepat, simpel dan memuaskan. Saat ini saya memiliki 2 lokasi usaha di Depok dan Sawangan dan semakin optimis mengembangkan usaha saya bersama Bank Sampoerna”.

 


BU OCTARINA “KLIK LAUNDRY”, Cikarang

Bu-Octarina

Cikarang yang di dominasi oleh kawasan industri menjadikan kota ini sebagai magnet investasi, baik dari skala mikro hingga perusahaan multinasional. Salah satu peluang usaha yang memiliki prospek yang sangat menjanjikan adalah jasa laundry. Peluang ini yang ditangkap oleh pasangan Teguh Rahmanto dan Octarina, yang mendirikan usaha laundry dengan nama Klik Laundry.

“Pada tahun 2013 bisnis laundry yang skala besar masih belum banyak kompetitornya. Di sisi lain saat itu pertumbuhan hotel sangat pesat sehingga Klik Laundry harus menambah karyawan hingga 22 orang dengan 2 shift waktu kerja. Hal itu terjadi karena besarnya permintaan pelayanan laundry karena keterbatasan kapasitas dan jaminan kualitas yang harus kami jaga, karena pertaruhan kredibilitas kami.

 

Tantangan terbesar muncul pada bulan Juli 2015, saat dollar mencapai angka 14 ribu rupiah, yang mengakibatkan permintaan dari hotel dan perusahaan mengalami penurunan drastis. Hal itu terjadi karena hotel mengalami penurunan tingkat hunian dan perusahaan mengurangi kapasitas produksi. Akibat dari hal tersebut cukup berdampak kepada kapasitas karyawan kami yang sebelumnya berjumlah 40 orang dalam 3 shift menjadi 22 orang dalam 2 shift.

 

Usai badai krisis tersebut, kondisi perekonomian kembali meningkat sehingga permintaan juga kembali meningkat dari hotel dan apartemen. Akhirnya kami memutuskan Mesin Setrika Roller Iron dan mesin laundry koin melalui bantuan modal investasi dari Bank Sampoerna. Proses pencairan kreditnya cepat, lebih kurang 2 minggu.

 

Alhamdulillah dengan investasi ini omzet kami naik antara 30% – 40%. Kami berterimakasih kepada Bank Sampoerna dan berharap dapat tumbuh berkembang bersama.” Imbuh Bu Octarina

 


HAFSAH, Penjual Bahan Bangunan

hafsah

Hafsah yang lahir dan besar  di Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan merupakan tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab mencukupi kebutuhan mereka sehari-harinya hingga merantau ke Negeri Jiran Malaysia. Sekembalinya merantau dari Negeri Jiran Malaysia pada tahun 1992, Hafsah memulai usahanya dengan membuka toko bangunan dan sebagai supplier tunggal Cat Merk Nippon Paint yang ada di Kabupaten Sidrap.

 

“Dengan modal awal 50 juta saya nekat mulai usaha tersebut. Saya memilih usaha ini karena melihat peluang saat itu sangat bagus untuk membuka toko bahan bangunan karena tidak ada pesaing, selain itu bahan bangunan termasuk merupakan barang yang di butuhkan pada saat itu” ungkap Hafsah saat ditemui oleh Tim Bank Sampoerna.

 

Selama menjalani usaha, Hafsah pernah mengalami masa pasang surut usaha diantaranya pernah melayani kontraktor yang selalu mengambil barang di tokonya namun pada akhirnya tidak di bayar dan bahkan kontraktor tersebut kabur.

 

“Hal itu cukup berpengaruh terhadap perputaran usaha saya. Namun Alhamdulillah karena manajemen pengelolaan yang kami terapkan cukup baik, maka tantangan yang di hadapi bisa di selesaikan dengan cepat” lanjut Hafsah bercerita.

 

Hingga pada akhirnya Hafsah bertemu dengan Bank Sampoerna pada tahun 2013.

 

Berikut penuturan Hafsah terhadap Bank Sampoerna :

 

“Kesan pertama saya terhadap Bank Sampoerna sangat baik, karena karyawan yang menawarkan pada saat itu sangat sopan dan paham mengenai kebutuhan debitur. Selain itu produk yang di tawarkan oleh Bank Sampoerna sangat kompetitif dan bisa bersaing. Berkat Bank Sampoerna, saya dapat mengembangkan usaha saya menjadi lebih besar dan modal yang saya kelola mencapai 3 milliar. Saya berharap Bank Sampoerna harus terus memberikan pelayanan yang terbaik untuk nasabah dan terus menjadi lembaga keuangan yang bisa bersinergi dengan pengusaha dan pedagang yang ada di Kabupaten Sidrap”.