ceo message photos

Para Nasabah, Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan,

 

Kondisi Perekonomian dan Perbankan Nasional

Kondisi perekonomian global secara umum masih mengalami perlambatan yang dibayangi peningkatan risiko ketidakpastian. Bank Dunia memperkirakan ekonomi global pada 2016 hanya tumbuh 2,3%, lebih rendah dari tahun 2015 yang tumbuh 2,7%. Di sisi lain, perekonomian negara maju seperti Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan kinerja yang solid meskipun pada akhir tahun mulai menunjukkan tanda perbaikan. Ketidakpastian arah kebijakan pemerintah AS pasca pemilihan presiden AS ke-45 juga meningkatkan sentimen negatif di pasar keuangan AS, yang akhirnya berpengaruh terhadap volatilitas pasar keuangan dunia.

 

Perekonomian Indonesia tumbuh 5,02% year on year (YoY) pada 2016 meningkat dibanding tahun 2015 sebesar 4,88%. Kondisi ekonomi domestik yang stabil dan keberhasilan program tax amnesty turut meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong penguatan mata uang Rupiah dan Index Harga Saham Gabungan (IHSG). Sepanjang tahun 2016, Rupiah mengalami penguatan terhadap hampir semua mata uang utama dunia. Ketahanan industri perbankan masih cukup kuat didukung oleh memadainya rasio kecukupan modal dan terkendalinya risiko kredit. Pada Desember 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 22,93% dengan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 20,9%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,93% (gross) atau 1,2% (net). Meski demikian, fungsi intermediasi perbankan nasional pada tahun 2016 masih relatif lemah. Hingga Desember 2016, kredit hanya tumbuh 7,87% (YoY), lebih rendah dibanding pertumbuhan tahun 2015 sebesar 10,44% (YoY). Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 9,60% (YoY)lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,26% (YoY).

 

Sepanjang tahun 2016, bank-bank BUKU 2 (termasuk BPD dan tidak termasuk Bank Syariah) dalam penyaluran kredit mampu tumbuh 6,09% (YoY) dari Rp535,46 triliun di tahun 2015 menjadi Rp568,08 triliun per Desember 2016. Begitu juga dalam penghimpunan dana pihak ketiga di tahun 2016 tumbuh sebesar 5,90% (YoY) menjadi Rp571,78 triliun dari Rp539,94 triliun di tahun 2015.

 

Penyaluran Kredit ke Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Total penyaluran kredit perbankan kepada UMKM di Indonesia tercatat sebesar Rp802,11 triliun di tahun 2016, tumbuh 8,42% (YoY) dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp739,80 triliun. Peningkatan pertumbuhan kredit UMKM terjadi pada UMKM jenis modal kerja yang meningkat 9,34% dan kredit UMKM investasi naik sebesar 6,00% dibandingkan tahun 2015. Kenaikan kredit UMKM ini juga diiringi dengan penurunan rasio kredit bermasalah (NPL) yaitu sebesar 3,96% pada Desember 2016 menurun dibandingkan 4,03% pada tahun 2015.

 

Menurut jenis penggunaannya, kredit UMKM masih didominasi untuk membiayai kredit modal kerja sebesar Rp587,34 triliun atau sebesar 73,22% dari total kredit UMKM. Sedangkan untuk kredit investasi adalah sebesar Rp214,77 triliun atau 26,78% yang komposisinya tidak jauh berubah dari tahun sebelumnya. Dari jenis klasifikasi usaha, kredit usaha kecil tumbuh 11,83% (YoY), kredit mikro tumbuh 10,92% (YoY), dan kredit menengah tumbuh lebih kecil, yaitu sebesar 5,22% (YoY). Secara komposisi, kredit usaha menengah lebih besar dibandingkan jenis lainnya yaitu Rp377,76 triliun (47,10%), kredit kecil sebesar Rp241,47 triliun (30,10%) dan kredit

mikro Rp182,87 triliun (22,80%).

 

Analisis Atas Kinerja Bank Sampoerna Fokus dan Strategi 2016

Arah kebijakan umum Bank Sampoerna pada tahun 2016 sejalan dengan misi pemegang saham mayoritas untuk memberdayakan skala Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dengan tetap menekankan pada prinsip kehati-hatian dan mengacu pada prinsip pemberian kredit yang sehat. Selain itu, untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan sehat serta antisipasi kondisi perekonomian makro yang dinamis, Bank tetap fokus pada segmen bisnis UMKM dengan mengarah kepada Usaha Kecil dan Menengah yang sedang berkembang untuk plafon Rp1 miliar – Rp3 miliar dan Super Mikro untuk plafon Rp0,5 miliar – Rp1 miliar. Strategi ini konsisten dilakukan dengan melakukan pemasaran yang terfokus pada UKM di lingkungan komunitas sekitar Bank, kawasan pasar serta pengusaha UKM yang menjadi anggota koperasi binaan Bank. Pertumbuhan kredit UMKM secara garis besar masih dilakukan dengan pola asset buy dari mitra bisnis Koperasi Simpan Pinjam Sahabat Mitra Sejati (KSP SMS).

 

Dalam penghimpunan dana, Bank telah berhasil memelihara pertumbuhan DPK selaras dengan pertumbuhan perkreditan Bank selama tahun 2016. Keberhasilan ini ditunjang oleh tenaga pemasaran yang berpengalaman, produk dana yang kompetitif, serta terlaksananya pembukaan kantor cabang ke lokasi yang potensial. Bank juga selalu menjaga rasio dana murah pada level yang konstan melalui strategi cross selling produk giro dan tabungan kepada nasabah deposan yang secara konsisten dilakukan oleh setiap tenaga pemasaran, ditambah dengan beberapa peluncuran produk dan aktivitas baru selama tahun 2016.

 

Realisasi Target Kinerja Keuangan

Secara umum, kinerja keuangan Bank Sampoerna sampai dengan akhir Desember 2016 cukup baik di tengah kondisi ekonomi yang masih belum pulih. Bank masih dapat meningkatkan penyaluran kredit dan dana pihak ketiga yang tumbuh lebih besar dibandingkan pertumbuhan kredit dan DPK secara nasional maupun dibandingkan bank kelompok BUKU 2.

 

Sampai akhir Desember 2016, kredit yang disalurkan sebesar Rp5,77 triliun atau tumbuh 22,02% dibandingkan tahun 2015 yang tercatat Rp4,73 triliun. Sedangkan pertumbuhan kredit secara nasional hanya 7,87% dan pertumbuhan kredit pada bank BUKU 2 adalah 6,09%. Komposisi penyaluran kredit Bank Sampoerna didominasi pada usaha sektor mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebesar 70%, dan sisanya disalurkan kepada non-UMKM sebesar 29% dan BPR sebesar 1%. Untuk penghimpunan dana pihak ketiga tercatat Rp6,21 triliun atau mengalami peningkatan 25,24% dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar Rp4,96 triliun. Hal ini melebihi pertumbuhan DPK secara nasional yang berada pada 9,60% (YoY) maupun pertumbuhan DPK pada bank BUKU 2 sebesar 5,90%. Bank juga dapat menjaga posisi rasio pinjaman terhadap total simpanan (Loan-to-Deposit Ratio (LDR)) per akhir 2016 sebesar 91,50%. Bank juga tidak dapat terlepas dari dampak kondisi ekonomi di tahun 2016 yang masih belum pulih, khususnya untuk kawasan Indonesia wilayah barat. Akibatnya, NPL gross meningkat tipis menjadi 3,09% dari sebelumnya 2,93% di tahun 2015. Meski demikian, NPL net masih dapat dijaga pada posisi menurun menjadi 2,65% dibanding tahun 2015 sebesar 2,71%. Dampak peningkatan NPL gross, Bank harus meningkatkan beban pembentukan CKPN yang merupakan beban yang dibentuk yang dijadikan cadangan bagi kredit bermasalah. Hingga akhir tahun 2016, beban pembentukan CKPN sebesar Rp56,2 miliar atau naik cukup signifikan sebesar 117,82% dibandingkan dengan tahun 2015 yang tercatat Rp25,8 miliar. Pembentukan CKPN Bank telah selalu mengacu kepada ketentuan PSAK 50/55, Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) maupun ketentuan Bank Indonesia/Otoritas Jasa Keuangan. Konsekuensinya adalah laba bersih Bank tergerus menjadi Rp34,38 miliar atau mengalami penurunan sebesar 31,24% dibanding tahun 2015 yang tercatat sebesar Rp49,99 miliar. Penurunan laba bersih ini perlu dipahami sebagai langkah dan upaya Bank melakukan peningkatan pemenuhan loan loss coverage ratio di tahun 2016 serta upaya Bank untuk lebih konservatif. Namun demikian, dalam upaya meningkatkan profitabilitas, bank masih dapat mencatat peningkatan Pendapatan Bunga Bersih sebesar Rp458,0 miliar naik 43,58% dibanding tahun 2015 sebesar Rp319,0 miliar dengan peningkatan Margin Bunga Bersih (Net Interest Margin) sebesar 6,52% naik dibandingkan tahun 2015 sebesar 6,28%.

 

Dari sisi total aset Bank Sampoerna per 31 Desember 2016 tercatat sebesar Rp7,53 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 22,47% dibandingkan dengan akhir tahun 2015 sebesar Rp6,15 triliun. Sedangkan rasio lainnya, Bank dapat menjaga imbal hasil atas aset (ROA) pada posisi 0,74% dengan imbal hasil atas ekuitas (ROE) sebesar 3,45% dan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 93,69%.

 

Permodalan

Total ekuitas Bank Sampoerna per 31 Desember 2016 tercatat sebesar Rp1,09 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 28,32% jika dibandingkan dengan akhir tahun 2015 sebesar Rp852,49 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan modal disetor dari Pemegang Saham sebesar Rp210 miliar, sehingga Modal Disetor per 31 Desember 2016 menjadi Rp925 miliar dari sebelumnya sebesar Rp715 miliar. Peningkatan Modal Disetor di tahun 2016 telah membawa Bank Sampoerna menuju level BUKU II sehingga bisa menapaki tahapan sebagai bank yang siap berkompetisi di pasar perbankan secara nasional. Sehingga posisi rasio kecukupan modal (CAR) di tahun 2016 menjadi 18,28% meningkat dari sebelumnya 17,03% pada tahun 2015.

 

Perbaikan Sumber Daya Manusia

Sejumlah perbaikan telah dilakukan Bank pada bidang sumber daya manusia, di antaranya dengan terus meningkatkan kualitas, produktivitas, kualifikasi dan kompetensi dari sumber daya manusia yang dimiliki agar sesuai dengan kebutuhan Bank. Pelaksanaannya melalui berbagai program pengembangan karyawan, program sertifikasi, rekrutmen karyawan baru melalui Management Development Program dan juga melakukan targeted recruitment untuk memastikan kesesuaian dengan rencana pengembangan bisnis. Di samping itu Bank memperkuat peningkatan kapabilitas kepemimpinan melalui program kepemimpinan yang berkelanjutan untuk mendukung strategi bisnis Bank ke depannya. Untuk memastikan investasi di bidang SDM berjalan secara efektif, Bank telah menerapkan budaya meritocracy yang berorientasi terhadap pencapaian kinerja. Siklus penilaian kinerja dilakukan secara berkala dan berkesinambungan untuk merencanakan target kinerja tahunan baik di tingkat unit dan individu, melakukan evaluasi pencapaian target dan merencanakan langkah tindak lanjut pengembangan, serta pemberian penghargaan kepada karyawan atas dasar kontribusi dan prestasi.

 

Peningkatan Kualitas Operasional dan Jaringan

Sebagai bagian dari pertumbuhan dan perluasan usaha, Bank melakukan ekspansi dengan membuka 2 cabang yaitu di wilayah Jababeka – Cikarang dan Malang – Jawa Timur. Melalui pembukaan kantor cabang, diharapkan dapat terus meningkatkan pelayanan dan peningkatan bisnis. Selain itu, Bank juga membuka 2 Kantor Fungsional Non-Operasional (KFNO) di Matraman dan Kelapa Gading, Jakarta.

 

Bank juga telah meluncurkan produk/aktivitas baru selama tahun 2016. Di antaranya peluncuran Produk dan Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif/Laku Pandai, kerjasama dengan agen/retailer terkait Laku Pandai, penggunaan Virtual Account, Internet Banking Business – PRK, Dana Cepat / Program Pembiayaan Merchant Tokopedia / Probiz Multiguna Start Up Business dan Program KMG Pro Biz, yaitu pembiayaan konsumtif dan produktif Pro (mendukung) bisnis.

 

Penguatan Infrastruktur Teknologi Informasi (TI)

Seiring dengan implementasi Core Banking System sekaligus Data Center yang baru di akhir tahun 2015, Bank Sampoerna menjadikan tahun 2016 sebagai masa stabilisasi, pemantapan, dan peningkatan kinerja system baru tersebut. Bank secara konsisten menjadikan teknologi informasi sebagai aspek pendukung pengembangan dan pertumbuhan bisnis Bank, yang semakin tinggi kompleksitasnya seiring tumbuhnya teknologi secara global dan nasional. Sehingga Bank mengedepankan keamanan sistem yang dipakai, sekaligus menjaga kesinambungan layanan teknologi informasi.

 

Sepanjang tahun 2016, Bank telah melakukan upaya untuk memastikan keamanan sistem dan Data Center yang baru melalui pengujian, seperti Vulnerability Test Core Banking System dan sistem inti pendukung, dan Penetration Test Data Center, yang dilakukan oleh pihak independen dan pengujian Disaster Recovery Center. Selain itu, adalah pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia terkait Teknologi Informasi, serta realisasi pengembangan TI selama tahun 2016. Bank juga telah menyelesaikan pengembangan TI yang dapat memberikan kontribusi positif bagi bisnis Bank, antara lain: Relaunching system Laku Pandai, pemutakhiran sistem Data Warehouse, Implementasi fitur Virtual Account, Implementasi system Single System Asset Buy (SSAB). Selama dua tahun terakhir, Bank juga telah mempersiapkan infrastruktur sistem aplikasi, perangkat keras (hardware) dan perangkat pengamanan ( firewall) yang solid untuk mendukung implementasi fitur-fitur/layanan perbankan yang inovatif. Harapan Bank pada Rencana Strategis TI periode berikutnya dengan infrastrukur yang sudah memadai, Bank siap menghadapi era digital / mobile, dapat bekerjasama dengan pihak ketiga dengan lebih dinamis, dan mengantisipasi kebutuhan layanan finansial bagi bisnis Fintech / Startup.

 

Tantangan yang Dihadapi

Tantangan terbesar Bank di tahun 2016 adalah meningkatnya ketidakmampuan bayar kewajiban dari beberapa debitur akibat belum pulihnya perekonomian secara keseluruhan, khususnya untuk wilayah Indonesia Bagian Barat (Sumatera). Namun demikian, Bank masih dapat menjaga rasio NPL gross pada posisi 3,09% dengan NPL nett sebesar 2,65% di tahun 2016. Berbagai upaya Bank dalam upaya menekan rasio NPL ini antara lain untuk pembelian portofolio asset buy, Bank memilih lebih selektif dengan tidak membeli portofolio dari cabang KSP SMS yang kualitas portofolionya kurang baik dan cabang yang berlokasi di daerah yang ekonominya bergantung dengan pertanian dan perdagangan komoditi karet dan sawit (Sumatera). Selain itu, Bank sangat selektif lebih berhati-hati dalam penyaluran kredit UMKM pada daerah maupun sektor-sektor ekonomi yang terdampak pelemahan ekonomi yaitu agribisnis, konstruksi dan transportasi, dan pertanian. Bank juga melakukan pembekuan, stop booking kredit baru dan/atau pencabutan wewenang memutus kredit pejabat Bank pada cabang yang kredit-nya terdapat delinquency (30+dpd) mencapai tingkat tertentu sesudah 6 bulan sejak booking agar lebih berkonsentrasi menangani kredit bermasalah serta memperbaiki portofolionya. Bank juga melakukan upaya percepatan proses Agunan Yang Diambil Alih (AYDA) baik melalui perantara, iklan melalui surat kabar, membuat papan pengumuman yang ditempatkan pada lokasi AYDA maupun dengan cara memberikan informasi penjualan AYDA kepada setiap debitur Bank yang mempunyai track record yang baik, dan juga melakukan penawaran kepada karyawan internal. Bank juga meningkatkan pengawasan terhadap kredit yang berpotensi menjadi kurang baik dan melakukan penyelesaian secara dini terhadap sejumlah kredit bermasalah, yang pelaksanaanya mengacu prinsip kehatihatian serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

Penerapan Tata Kelola Perusahaan & Manajemen Risiko

Manajemen Bank Sampoerna telah menerapkan prinsip tata kelola yang lebih baik dari waktu ke waktu. Berbagai perbaikan dalam peningkatan kualitas penerapan Good Corporate Governance (GCG) telah dilakukan mulai dari governance structure, governance process dan governance outcome. Bank telah memiliki struktur tata kelola perusahaan yang memadai yang comply melalui implementasi organ Utama yang saling menunjang dan mendukung pelaksanaan fungsi, tugas dan tanggung jawab yang transparan dan independen serta sesuai dengan peraturan dan perundangundangan yang berlaku. Sepanjang tahun 2016 Bank juga telah melakukan berbagai upaya penguatan tata kelola perusahaan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan konsisten mengelola sistem manajemen risiko dengan berpedoman pada regulasi dan perundangan yang berlaku serta teru meningkatkan berbagai mitigasi risiko, termasuk memperkuat penerapan Three Lines of Defence khususnya pengendalian risiko kredit dan risiko operasional. Bank juga melakukan penguatan pada soft structure tata kelola perusahaan termasuk di antaranya dengan menyempurnakan sejumlah kebijakan.

 

Satuan Kerja Kepatuhan (SKK) dan Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) serta Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) terus bersinergi untuk membantu unit kerja operasional/risk taking unit untuk meningkatkan kualitas pengendalian intern seiring dengan peningkatan skala dan kompleksitas usaha Bank. Penilaian Risk-Based Bank Rating ( RBBR) tahun 2016 menghasilkan nilai 2, menunjukkan bahwa kinerja tata kelola Bank telah sesuai dengan Rencana Bisnis Bank. Beberapa catatan kelemahan–kelemahan yang terjadi di bidang Manajemen Risiko, Operasional, dan sistem pengendalian Intern termasuk fungsi kepatuhan dapat diselesaikan dengan tindakan normal oleh Manajemen Bank. Proses perbaikan tersebut ditunjang oleh konsistensi dan komitmen Dewan Komisaris dan Direksi yang menjunjung tinggi integritas, transparansi, serta keadilan melalui program-program manajemen dalam rangka pembentukan dan memperkuat nilai-nilai perusahaan yang diharapkan dan adanya komunikasi yang transparan kepada karyawan yang dilakukan oleh Direksi melalui sharing session secara rutin terkait dengan kebijakan, strategi dan performance Bank.

 

Bank juga memperoleh penghargaan atas penerapan tata kelola yang baik, di antaranya adalah sebagai Peringkat 3 Kategori Private Keuangan Non-Listed dalam Annual Report Award 2015 yang diselenggarakan OJK Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Dirjen Pajak Kemenkeu RI, Ikatan Akuntan Indonesia serta sebagai Bank dengan predikat B (Good) versi Indonesia Good Corporate Governance Award 2015 dari Majalah Economic Review.

 

Selain penghargaan tata kelola, beberapa penghargaan lainnya yang diperoleh Bank di tahun 2016 antara lain: Bank yang berpredikat Sangat Bagus atas Kinerja Keuangan Tahun 2015 untuk kategori Bank BUKU 1 dengan asset di atas Rp5 triliun pada Infobank Award 2016 dari Majalah Infobank. Peringkat ke-3 untuk Kategori BUKU I Non Tbk dengan asset Rp2,5-5 triliun pada Anugerah Perbankan Indonesia 2016 dari Majalah Economic Review dan Institut Perbanas.

 

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Bank Sampoerna memaknai tanggung jawab sosial perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada pemangku kepentingan dan dengan kesadaran bahwa keberadaan operasi Bank yang tersebar dalam suatu tatanan lingkungan masyarakat. Di tahun 2016 Bank telah merealisasikan berbagai program tanggung jawab sosial yang berorientasi jangka panjang dengan mewujudkan keberlanjutan Bank yang berorientasi pada aspek sosial, lingkungan hidup, ketenagakerjaan, kesehatan, pendidikan termasuk tanggung jawab sosial kepada nasabah. Berbagai program yang telah dilaksanakan mulai dari Grebek Pasar Petisah di Medan, kegiatan Go Green melalui penanaman 100 bibit tanaman, Serving Day ke Pengusaha Jamu dan Minuman Herbal, donasi yang terkait dengan dunia pendidikan, donor darah, Program Edukasi Literasi Perbankan melalui seminar pemberdayaan pengusaha UMKM termasuk mengembangkan pengetahuan anak-anak sekolah dasar di bidang perbankan serta pengelolaan dan penyelesaian pengaduan pelanggan atau nasabah. Berbagai aktivitas tanggung jawab sosial Bank di tahun 2016, telah mendapatkan apresiasi dari lembaga independen yang memberikan penghargaan sebagai Peringkat ke-2 Corporate Social Responsibility dalam Ajang Anugerah Perbankan Indonesia V tahun 2016.

 

Penilaian Kinerja Komite di Bawah Direksi

Dalam menjalankan tugasnya, Direksi Bank didukung oleh Komite-Komite di bawah Direksi terdiri dari Asset and Liability Committee (ALCO), Komite Manajemen Risiko, Komite Manajemen Risiko Operasional, Komite Kebijakan Perkreditan, dan Komite Pengarah Teknologi Informasi. Direksi menilai Komite-komite di Bawah Direksi telah berperan efektif dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik dalam membantu pelaksanaan tugas Direksi

 

Analisis atas Prospek Usaha 2017

Memasuki tahun 2017, ketidakpastian ekonomi global masih membayangi Indonesia. Namun demikian, Pemerintah dan Bank Indonesia optimistis bahwa pondasi ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menghadapi sentimen negative ekonomi global, sehingga pemulihan ekonomi domestic diharapkan dapat berlanjut secara positif. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 sebesar 5,1%. Inflasi dipatok dalam rentang sasaran APBN 2017 sebesar 4% dengan nilai tukar rupiah pada kisaran Rp13.300. Seiring inflasi yang terjaga dan likuiditas yang memadai, suku bunga dana diharapkan tidak meningkat, sehingga suku bunga kredit masih dapat turun. Tahun 2017, Bank Indonesia juga memprediksi pertumbuhan kredit mencapai 10% – 12%, lebih tinggi dari 7,87% pada tahun 2016. Sementara itu, dana pihak ketiga tumbuh berkisar 9% – 11%, atau naik dari 9,60%. Bank optimistis bahwa industri UMKM pada 2017 kian membaik, karena pertumbuhan ekonomi yang diharapkan positif dengan tingkat suku bunga acuan yang rendah. Dengan berbekal posisi sebagai bank kelompok BUKU 2 mulai tahun 2016, disertai dukungan pemegang saham, manajemen akan terus memperkuat landasan Bank melalui pengembangan Sistem Informasi Manajemen, Sumber Daya manusia beserta pengembangan organisasi serta meningkatkan kualitas penerapan tata kelola, dan memperluas jaringan kantor di daerah Semarang dan Pontianak sesuai kebutuhan.

 

Dari sisi bisnis, Bank akan terus menyeimbangkan pertumbuhan bisnis yang berkualitas dengan memperbanyak cerukan dan memperluas segmen UMKM dan tidak hanya bergantung pada salah satu sektor saja. Bank juga berencana melakukan aktivitas transaksi pembelian surat berharga baik AFS maupun trading seiring dengan posisi sebagai BUKU 2. Bank juga telah merencanakan penerbitan produk baru berupa mobile banking, serta pelaksanaan aktivitas baru mulai dari integrasi sistem e-KTP dengan sistem perbankan collection & recovery system maupun peningkatan kualitas operasional berupa front end for centralized operations, credit & collection maupun front end for branch & outbranch.

 

Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, Pemegang Saham juga berencana untuk menambah setoran modal di tahun 2017 sebesar Rp150 miliar sehingga Modal Inti di akhir tahun 2017 diharapkan mencapai Rp1,2 triliun. Tentunya di tahun-tahun mendatang manajemen juga akan terus mempertajam faktor-faktor yang menjadi keunggulan Bank Sampoerna dibandingkan bank-bank pesaingnya. Ini mencakup persepsi dan kepercayaan dari masyarakat terhadap Bank dan dari Grup Pemegang Saham, yaitu Grup Sampoerna Strategic dan Grup Alfa. Berbekal semua itu, di tahun 2017 Bank Sampoerna telah menetapkan sejumlah sasaran finansial, yakni total asset menjadi Rp8,83 triliun, total kredit Rp6,74 triliun, DPK Rp7,24 triliun, dengan laba sebelum pajak sebesar Rp 85,45 miliar. Selain itu, Bank berkomitmen menjaga posisi CAR pada 17,03%, dengan ROA 1,03%, NPL gross 2,98% dan BOPO 92,01%. Dalam jangka menengah dan panjang serta untuk terus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, Bank akan mempersiapkan platform bisnis yang lebih bervariasi serta juga rencana untuk penambahan modal melalui pasar modal serta penerbitan surat berharga di antaranya penerbitan obligasi atau lainnya.

 

Terimakasih Kepada Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan

Komitmen dan kerja keras manajemen dan seluruh individu Bank Sampoerna telah menghasilkan kinerja keuangan yang baik dengan kinerja manajemen yang terus meningkat sepanjang tahun 2016. Atas nama Direksi, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi yang telah ditunjukkan oleh seluruh karyawan Bank Sampoerna.

 

Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Dewan Komisaris dan seluruh Pemangku Kepentingan atas kepercayaan, dukungan dan pengawasan yang telah dilakukan selama tahun 2016. Juga kepada pemegang saham, mitra usaha, dan nasabah atas kepercayaan yang telah diberikan. Semoga dengan dukungan semua pihak yang tiada henti tersebut, Bank Sampoerna mampu meningkatkan peran dalam menyejahterakan masyarakat dan mewujudkan Visi “Menjadi institusi keuangan pilihan masyarakat yang berfokus pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah, dan memberikan pelayanan yang terpercaya dan profesional”